Romantisme Kota Mandalay di Myanmar

Kota Mandalay yang merupakan salah satu kota terbesar di Myanmar kini menjadi salah satu tujuan wisata yang menarik bagi sebagian wisatawan.

Lokasinya yang berada di perbukitan dan dikelilingi oleh aliran sungai yang gemercik menambah suasana romantis kota ini. Dikenal sebagai kota budaya, Mandalay ternyata menyimpan banyak cerita untuk ditelusuri. Ketradisionalan dan keberagaman dapat dijumpai disini. 

Romantisme Kota Mandalay di Myanmar

Meskipun sebagian penduduknya beragama Budha, Masjid masjid dan gereja dapat dijumpai di kota yang memiliki nuansa klasik ini. 

Beberapa destinasi menarik di Mandalay

Nilai budaya. Karena dikenal sebagai pusat kebudayaan, tak heran apabila di Mandalay banyak dijumpai situs situs sejarah peninggalan kerajaan Burma yang menjadi salah satu tujuan utama berkunjung ke Mandalay. 

Beberapa pusat seni bernuansa tradisional yang disuguhkan seperti seni membuat patung, seni perak, seni mencetak tembaga, seni batu, seni lukis, seni sastra dan beberapa kesenian yang lainnya. 

Nilai religius. Di kota Mandalay, wisatawan dapat mengunjungi dan melihat-lihat Atumashi Kyaung yang terletak di ujung Mandalay Hill, tepatnya di samping Shwenandaw Kyaung.

Ini merupakan bangunan resejarah religius yang merupakan peninggalan dari Raja Mindon pada tahun 1857. Bentuk bangunannya sangat klasik mewakili struktur seni monastic Burma dengan kombinasi material batu dibagian bawah dan susunan kayu dibagian atasnya. 

Nilai sejarah. Ternyata Mandalay juga menyimpan nilai-nilai sejarah dimana wisatawan dapat melihat dan berkunjung ke salah satu peninggalan bukti sejarah yaitu Maha Myat Muni Pagoda. Pagoda ini berada dikawasan Amarapura yang dahulunya menjadi ibukota kerajaan Dinasti Konbaung pada saat masih berjaya yaitu sekitar tahun 1783. 

Amarapura

Di Amarapura pengunjung juga bisa dengan mudah menikmati suasana matahari terbenam di U Bein Bridge yang terletak di danau Thaungtaman dan Kyauktawgyi Pagoda. Selain Amarapura, ada juga situs peninggalan bersejarah lainnya di Mandalay yakni di kawasan Inwa. 

Daerah ini dahulunya dipimpin oleh kerajaan Inwa selama kekaisaran kedua Myanmar. Daerah ini kini menjadi distrik kecil di sebelah selatan Amarapura. 

Daerah ini menyuguhkan pemandangan alam dan peninggalan-peninggalan bersejarah seperti Nanmyint Watch Tower, Biara Maha Aungmye Bonzan, Biara Bagaya, pabrik vernis dan Jembatan Inwa yang membentang di sungai Ayeyarwad. 

Tak lupa untuk mengakhiri penjelajahan di kota Mandalay, di malam hari pengunjung dapat menjumpai pentas seni drama wayang yakni Marionets. Ini wayang boneka yang bentuknya menyerupai manusia. 

Sama halnya dengan wayang yang umumnya ada di Indonesia, Marionets juga diiringi dengan beberapa lantunan merdu dari alat-alat musik yang berbeda seperti seruling, gendang, gamelan dan sinden yang mengiringi lantunan lagu-lagu khas tradisional Myanmar. 

1 Komentar


  1. Wah, Keren ananda, Radhika. Jelajahannya sudah merambah ke Myanmar. Kayaknya ada kesamaan wayang di sana dengan Indonesia ya. Terima kasih telah berbagi informasi.

    BalasHapus